Allah SWT berfirman, “Hanya orang-orang yang berakal saja
yang dapat mengambil pelajaran.”
(OS. Al-Ra'd 113): 19)
Akal merupakan naluri yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya sebagai 'ujian'. Dengan akal, Allah menetapkan hujjah bagi orang-orang dewasa. Dia berbicara sesuai dengan akal mereka. Dengan akal pula, Allah berjanji dan mengancam, memerintah, melarang, serta mendorong, dan menganjurkan. Akal itu naluri. Akal hanya bisa diketahui dengan aktivitas hati dan anggota tubuh. Tidak ada seorang pun yang dapat menggambarkan akal yang ada, baik pada dirinya maupun pada orang lain, kecuali dengan menengok aktivitas hati dan tubuhnya. Akal juga tidak bisa disifati dengan bentuk tertentu, diukur dengan panjang atau pendek, dirasakan dengan perasaan atau penciuman, diraba, serta dilihat warnanya.